SUBANGPOST.COM — Denting kehidupan masyarakat pesisir Blanakan tidak pernah lepas dari laut. Bagi nelayan, laut bukan hanya tempat mencari penghidupan, tetapi juga ruang yang menyimpan harapan, doa, dan rasa syukur.
Hal itu tergambar dalam tradisi Ruat Laut ke-59 yang kembali digelar masyarakat nelayan Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
Di balik kemeriahan pelarungan dongdang ke Laut Jawa dan iring-iringan ratusan perahu nelayan, tersimpan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi tersebut bukan sekadar pesta rakyat, melainkan memiliki perhitungan waktu yang berkaitan erat dengan kehidupan nelayan.

Bagi masyarakat Blanakan, menentukan waktu Ruat Laut tidak dilakukan sembarangan. Ada pertimbangan alam yang menjadi pedoman, salah satunya masa terang bulan, ketika aktivitas melaut para nelayan relatif berkurang.
Bendahara KUD Mandiri Mina Fajar Sidik, Imron Rosadi, menjelaskan bahwa pelaksanaan Ruat Laut setiap tahun menyesuaikan kondisi alam dan aktivitas masyarakat nelayan.
“Tahun ini pelaksanaan dimajukan ke September. Biasanya lebih sering Oktober atau November. Kami pertimbangkan karena kalau sudah masuk Oktober dan November biasanya mulai banyak hujan,” ujar Imron saat ditemui, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, perubahan waktu pelaksanaan bukan menghilangkan nilai tradisi, melainkan bagian dari upaya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari laut.
Terang Bulan dan Perhitungan Nelayan
Ada filosofi tersendiri dalam menentukan waktu Ruat Laut Blanakan. Masa terang bulan menjadi salah satu pertimbangan karena pada periode tersebut aktivitas nelayan biasanya tidak sepadat hari-hari produksi.
“Setiap tahun kami melaksanakan saat terang bulan. Perhitungannya berdasarkan kondisi terang bulan, bukan hitungan seperti yang dipersepsikan sebagian orang,” kata Imron.
Dalam pemahaman masyarakat setempat, masa terang bulan biasanya berada sekitar tanggal 18, 19, hingga 20 dalam kalender Jawa. Waktu tersebut dianggap lebih tepat karena nelayan memiliki kesempatan mengikuti seluruh rangkaian acara.
Ketika hasil tangkapan sedang melimpah, nelayan justru harus fokus di laut. Karena itu, tradisi Ruat Laut dipilih pada saat aktivitas mereka lebih longgar.
“Kalau sedang banyak produksi, nelayan sangat sibuk. Jadi dipilih waktu ketika aktivitas melaut relatif berkurang,” tuturnya.
Tradisi Panjang Sebelum Puncak Larung Laut
Ruat Laut Blanakan bukan hanya berlangsung dalam satu hari. Jauh sebelum prosesi utama pelarungan dongdang, suasana perayaan sudah mulai terasa di sekitar lokasi acara.
Persiapan area parkir telah dilakukan sejak beberapa pekan sebelumnya. Pedagang, pasar malam, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat mulai tumbuh menyambut kedatangan warga yang ingin mengikuti tradisi tahunan tersebut.
Namun, puncak acara tetap berada pada prosesi pelepasan dongdang ke laut.
“Puncaknya ketika dongdang dilepas ke laut pada pagi hari. Itu yang menjadi inti syukuran laut,” ujar Imron.
Wayang Kulit, Warisan yang Tetap Dijaga
Selain prosesi laut, Ruat Laut Blanakan juga menjadi ruang pelestarian budaya. Pertunjukan wayang kulit menjadi salah satu bagian yang tetap dipertahankan hingga kini.
Menurut H. Imron, wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas tradisi masyarakat Blanakan.
“Yang baku dan harus ada itu pentas wayang kulit,” katanya.
Selain wayang kulit, pertunjukan sandiwara juga menjadi bagian dari rangkaian acara. Sementara hiburan lainnya menjadi pelengkap untuk menambah semarak perayaan.
Ratusan Perahu Mengiringi Dongdang
Pemandangan paling menarik terlihat ketika ratusan perahu nelayan bergerak menuju laut mengiringi dongdang yang akan dilarungkan.
Perahu-perahu kecil milik nelayan bergerak bersama, menciptakan pemandangan yang menggambarkan kuatnya kebersamaan masyarakat pesisir Blanakan.
“Hampir semua ikut, terutama perahu kecil. Jumlahnya lebih dari seratus perahu,” ungkap Imron.
Bagi nelayan, mengikuti prosesi tersebut bukan hanya menghadiri acara budaya, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Dari Tradisi Menjadi Penggerak Ekonomi
Di balik kemeriahan Ruat Laut, kegiatan ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Pedagang ikan, pelaku UMKM, hingga warga yang membuka usaha selama acara berlangsung ikut merasakan manfaatnya.
Pembiayaan acara sendiri masih mengandalkan swadaya masyarakat, mulai dari nelayan, pedagang ikan, hingga pemasukan dari aktivitas parkir dan perdagangan.
“Biayanya dari swadaya nelayan dan pedagang ikan. Kemudian ada pemasukan dari parkir dan pedagang yang berjualan,” jelasnya.
Imron berharap tradisi Ruat Laut Blanakan terus berkembang dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya semakin meningkat dan lebih meriah. Masyarakat bisa terhibur, pedagang dan UMKM juga mendapatkan manfaat karena banyak orang datang,” ujarnya.
Ruat Laut ke-59 Blanakan akhirnya bukan hanya tentang dongdang yang dilepas ke tengah laut. Tradisi ini menjadi pertemuan antara doa dan budaya, antara kearifan membaca alam dan perjuangan mencari nafkah, serta antara laut yang memberi kehidupan dengan masyarakat yang terus menjaganya.
Di tengah perubahan zaman, tradisi tersebut tetap menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat pesisir Blanakan, laut bukan sekadar hamparan air, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang harus dihormati dan disyukuri.
Syarif Hidayat









