spot_imgspot_img
Minggu, November 8, 2026
spot_img
spot_img
Memuat berita terbaru...

Berita Video

Top News

Nasional

Menjaga Warisan “Emas Putih” di Lumbung Subang: Ketan Grendel Bertahan Melintasi Zaman

SUBANGPOST.COM — Aroma lumpur basah dan bulir padi yang menguning berpadu di bawah terik matahari pagi di Desa Citrajaya, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang.

Di hamparan sawah yang membentang luas ini, kegembiraan terpancar dari wajah para petani yang tengah menikmati musim panen kedua pada November 2026.

Bagi warga Citrajaya, hamparan padi bukan sekadar sumber pangan, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah lintas generasi yang terus dijaga hingga hari ini.

​Dari total 450 hektare area persawahan di desa tersebut, sekitar 430 hektare kini didominasi oleh tanaman padi varietas lokal yang melegenda: ketan Grendel atau yang kerap disebut warga setempat sebagai ketan Gendel, sementara 20 hektare sisanya ditanami varietas Inpari 32.

Jejak Sejarah dari Era Orde Baru

Kehadiran ketan Grendel di bumi Subang bukanlah cerita kemarin. Varietas lokal ini memiliki akar sejarah yang erat dengan tradisi pertanian Nusantara, khususnya sejak dicanangkannya program swasembada pangan pada era pemerintahan Presiden Soeharto (Orde Baru).

Sejak saat itu, penanaman padi khusus varietas ketan mulai digalakkan dan mendarah daging di kalangan petani Subang, terutama di wilayah-wilayah sentra seperti Kecamatan Binong dan Patokbeusi.

Desa Citrajaya bahkan tumbuh dan dikenal luas hingga dijuluki sebagai ikon penghasil ketan berkat minat masyarakat yang konsisten membudidayakan komoditas bernilai ekonomi tinggi ini.

Baca Juga  Ketan Grendel Warisan Era Soeharto Jadi Andalan Petani Citrajaya Subang

Warisan leluhur tersebut terbukti tangguh. Hingga kini, di tengah gempuran berbagai varietas padi modern, ketan Grendel tetap menjadi primadona dan andalan ekonomi utama bagi petani setempat.

- Advertisement -
Advertisement

Keunggulan “Si Genjah” yang Menggiurkan

Bukan tanpa alasan varietas ini terus dipertahankan secara turun-temurun. Ketan Grendel dikenal memiliki karakteristik unggul yang memikat hati para petani: usia panennya relatif singkat (genjah), yakni berkisar antara 85 hingga 92 hari setelah tanam.

Dari segi produktivitas, potensi hasilnya tergolong tinggi, mampu mencatatkan angka riil di kisaran 7 hingga 7,5 ton per hektare pada musim panen kali ini. Tidak hanya produktif, kualitas bulirnya pun diandalkan karena berukuran besar, lentur, dan tetap pulen serta tidak keras setelah dimasak.

Baca Juga

- Advertisement -

Nilai tambah terbesar bagi petani tahun ini terletak pada kestabilan harga. Di tingkat petani, harga gabah kering panen (GKP) ketan Grendel terpantung stabil di kisaran Rp10.000 hingga Rp10.200 per kilogram sejak pertengahan Oktober hingga awal November 2026. Angka ini terpantau jauh lebih tinggi dan stabil dibandingkan harga gabah padi biasa.

Senyum Syukur Petani di Musim Panen

Baca Juga  Kapolsek Patokbeusi Ajak Warga Jaga Kamtibmas Jelang Pilkades Serentak

Arda, salah seorang petani setempat, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Di tengah dinamika sektor pertanian modern, hasil produksi pada musim tanam kedua tahun 2026 ini dirasakannya sangat memuaskan.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas capaian panen dan kestabilan harga pada tahun 2026 ini, baik pada musim tanam pertama di bulan April maupun musim kedua di bulan November,” ujar Arda dengan senyum mengembang, Minggu (8/11/2026).

Baca Juga

Bagi Arda dan ratusan petani lainnya di Citrajaya, kestabilan harga gabah ketan Grendel menjadi tumpuan utama dalam menyambung napas kehidupan sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga.

“Harga gabah ketan Gendel masih cukup stabil. Hal ini menjadi harapan utama kami untuk terus bertahan sekaligus meningkatkan taraf hidup,” tambahnya.

Dengan ratusan hektare lahan yang terus menghijau dan produktivitas yang terjaga, Desa Citrajaya membuktikan bahwa kearifan lokal masa lalu dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masa kini.

Sentra “emas putih” di Subang ini pun terus kukuh menopang ketersediaan beras ketan berkualitas bagi masyarakat luas, merawat tradisi yang diwariskan dari masa ke masa.

Tarpin Arifin Kada

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis dari sumber yang terpercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi subangpost.com dan dapat mengalami pembaruan dan klarifikasi dari pihak terkait.
👍 Like 💬 Komentar 🔗 Bagikan
spot_img
Memuat kurs...

Baca Juga

Artikel Lainnya

Subang Update

Peristiwa

KRIMINAL

^
✕
Download Aplikasi GoKar
Transportasi Online Asli Karawang
INSTALL
X