SUBANGPOST.COM – PT Pertamina (Persero) mencatat sebanyak 428 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor batik menjadi bagian dari program pembinaan perusahaan. Sejumlah UMKM tersebut melibatkan penyandang disabilitas dalam proses produksi dan pengembangan usaha.
Program pembinaan tersebut dilakukan untuk mendukung penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM batik di berbagai daerah.
Dalam momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, Pertamina menilai industri batik tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif dan penciptaan peluang kerja bagi masyarakat.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan pengembangan UMKM tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga mendorong terciptanya ruang ekonomi yang inklusif.
“Batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan usaha,” ujar Baron.
Menurut Baron, keterlibatan penyandang disabilitas dalam sektor UMKM menunjukkan bahwa kesempatan yang setara dapat dibangun melalui aktivitas ekonomi berbasis keterampilan.
“Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju kemandirian,” katanya.
Salah satu UMKM batik binaan Pertamina yang melibatkan penyandang disabilitas adalah Roona Batik di Bantul, Yogyakarta, yang dikelola Muhammad Syauki.
Usaha tersebut bergerak di bidang fesyen dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dan omzet mencapai sekitar Rp100 juta per bulan. Dari 18 pekerja yang terlibat dalam proses produksi, sebagian merupakan penyandang disabilitas.
Selain itu, Batik Jinggar di Yogyakarta yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih juga mengembangkan produk batik melalui inovasi motif dan desain. UMKM tersebut melibatkan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas.
Di Provinsi Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan produk batik dengan mengangkat unsur budaya lokal. Usaha tersebut melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas, dengan omzet sekitar Rp150 juta per bulan.
Sementara itu, program pemberdayaan penyandang disabilitas juga dilakukan melalui kelompok Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah. Kelompok tersebut mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian ekonomi melalui produksi batik, oleh-oleh khas daerah, serta kegiatan edukasi membatik.
Pertamina menyebut program pembinaan UMKM tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung pemberdayaan masyarakat, pengembangan kewirausahaan, serta penguatan industri kreatif.
Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, pelaku UMKM batik diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, dan menjaga keberlanjutan industri berbasis budaya lokal.









