📌 Ringkasan Berita
1
Bantuan pompa satelit IRPOM disebut tidak mampu mengairi lahan karena debit air sangat kecil.
2
Dari tiga titik bantuan pompa di Desa Kosambi, hanya satu yang berfungsi setelah petani melakukan pengeboran ulang secara swadaya.
3
Efektivitas program IRPOM dipertanyakan karena petani tetap harus mengeluarkan biaya sendiri untuk mengatasi kekeringan.
SUBANGPOST.COM – Di tengah kemarau yang telah berlangsung sekitar dua bulan tanpa hujan, hamparan sawah di Kecamatan Cipunagara dan Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, mulai kehilangan harapan.
Tanah mengering, tanaman padi terancam gagal panen, sementara bantuan pemerintah yang semestinya menjadi penyelamat justru disebut tak berfungsi.
Penelusuran Subang Post ke areal persawahan tadah hujan di Desa Kosambi, Kecamatan Cipunagara, menemukan fakta yang dikeluhkan para petani.
Bantuan program Irigasi dan Pompanisasi (IRPOM) berupa pompa satelit yang bersumber dari APBN Tahun 2024 dengan nilai sekitar Rp112,8 juta per titik disebut tidak mampu mengairi sawah karena debit air yang dihasilkan sangat kecil.
“Sampai sekarang pompa satelit itu tidak pernah dipakai karena airnya kecil sekali,” ujar Samsudin, petani Desa Kosambi, saat ditemui subangpost.com, Ahad (28/6/2026).
Di kawasan persawahan yang membentang antara Kampung Lampegan Wetan dan Kampung Gadog, terdapat lebih dari 50 hektare lahan pertanian yang bergantung pada air hujan.
Di lokasi tersebut, pemerintah membangun tiga titik bantuan IRPOM. Namun, menurut Samsudin, hanya satu titik yang akhirnya dapat dimanfaatkan. Itupun bukan dalam kondisi awal, melainkan setelah para petani kembali melakukan pengeboran secara mandiri agar sumber air dapat dimanfaatkan.
“Dari tiga titik bantuan, yang bisa dipakai hanya satu. Itu juga karena dibor lagi oleh petani,” katanya.
Kondisi itu memaksa para petani mencari jalan keluar dengan biaya sendiri. Mereka membuat sumur bor, membeli pompa, hingga menggunakan tabung gas elpiji sebagai bahan bakar untuk mengangkat air demi menyelamatkan tanaman padi yang mulai mengering.
Ironisnya, di saat anggaran negara telah digelontorkan untuk menghadapi ancaman kekeringan, para petani justru masih bergantung pada swadaya. Bantuan yang seharusnya menjadi solusi disebut belum mampu menjawab kebutuhan di lapangan.
Temuan ini menjadi catatan penting yang memerlukan penjelasan dari instansi terkait, terutama mengenai perencanaan, pelaksanaan, hingga efektivitas program IRPOM di Desa Kosambi.










