spot_imgspot_img
Rabu, Juni 24, 2026
spot_img
spot_img
Memuat berita terbaru...

Berita Video

Top News

Nasional

Polemik Siswa Tidak Naik Kelas di SMAN 1 Blanakan Memanas, Wali Murid Tuding Sekolah Tidak Transparan

SUBANGPOST.COM – Keputusan SMA Negeri 1 Blanakan, Kabupaten Subang yang menyatakan seorang siswa kelas X berinisial DRA (16) tidak naik kelas sempat memicu kekecewaan dari pihak wali murid.

Keluarga siswa menilai sekolah kurang transparan karena penjelasan mengenai alasan tidak naik kelas baru diperoleh secara rinci setelah mereka meminta klarifikasi lebih lanjut kepada pihak sekolah.

Baca Juga

Wali murid, Dahuri, mengaku pada awalnya hanya menerima informasi bahwa cucunya memiliki nilai yang kurang baik. Menurutnya, penjelasan tersebut belum cukup untuk menggambarkan faktor-faktor yang menjadi dasar keputusan sekolah.

- Advertisement -
Advertisement

“Kami ingin mengetahui secara rinci apa saja yang menjadi pertimbangan sekolah, baik dari sisi akademik maupun nonakademik,” ujar Dahuri.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan dari Bidang Kesiswaan SMAN 1 Blanakan, Suntari, menyatakan bahwa keputusan tidak naik kelas telah melalui mekanisme dan pertimbangan sesuai ketentuan yang berlaku di sekolah dan hasil rapat pleno dewan guru.

Menurut Suntari, hasil evaluasi menunjukkan siswa yang bersangkutan masih memiliki enam mata pelajaran yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) pada semester 1 maupun semester 2. Selain aspek akademik, tingkat kehadiran siswa di kelas tercatat sekitar 85 persen.

Baca Juga

- Advertisement -

“Nilai seluruh mata pelajaran harus mencapai minimal KKTP. Namun siswa yang bersangkutan masih memiliki enam mata pelajaran yang belum tuntas dari semester 1 dan semester 2,” kata Suntari.

Baca Juga  Hasil Audit Irda Subang, Pengelolaan Keuangan Pemdes Jayamukti Dinilai Sesuai Aturan

Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah beberapa kali melakukan pembinaan dan memanggil orang tua siswa untuk membahas berbagai permasalahan yang terjadi.

Selain itu, siswa juga telah diberikan kesempatan untuk memperbaiki nilai pada sejumlah mata pelajaran selama dua semester.

“Kami sudah berupaya melakukan pembinaan dan memberikan kesempatan perbaikan nilai. Orang tua juga sudah beberapa kali dipanggil. Berbagai pertimbangan akademik dan nonakademik tersebut menjadi dasar keputusan yang diambil sekolah,” ujarnya.

Menanggapi penjelasan pihak sekolah, Dahuri mengakui bahwa keputusan kenaikan kelas merupakan kewenangan sekolah. Namun, ia menilai siswa yang bersangkutan tidak diberikan kesempatan yang cukup untuk memperbaiki enam mata pelajaran yang belum memenuhi standar.

Menurut Dahuri, sekolah seharusnya memberikan ruang bagi siswa untuk meningkatkan nilai sekaligus menyampaikan perkembangan akademik kepada orang tua secara lebih intensif.

“Itu keputusan sekolah, iya. Memang ada kekurangan pada enam mata pelajaran, tetapi guru tidak memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Ini tidak adil. Seharusnya sekolah memberi kesempatan dan memberitahukan kepada orang tua agar anak bisa lebih giat belajar,” ujar Dahuri.

Baca Juga  Ledakan Hebat Guncang Dapur MBG di Blanakan, Sejumlah Relawan Alami Luka Bakar

Ia mengatakan masih terdapat berbagai upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan nilai siswa, seperti mengikuti les atau program pembelajaran tambahan. Namun, menurutnya, pihak keluarga baru memperoleh informasi menjelang keputusan kenaikan kelas ditetapkan.

“Masih ada les atau tambahan belajar untuk memperbaiki nilai. Tetapi kami baru dihubungi wali kelas belakangan, itupun setelah saya menghubungi terlebih dahulu. Saat itu kami justru diberi tahu bahwa keputusan sudah final atau sudah ‘ketok palu’. Di situ kami menilai ada yang kurang benar dalam prosesnya,” katanya.

Dahuri menilai apabila sekolah masih memberikan waktu untuk perbaikan, seharusnya keputusan tidak langsung dinyatakan selesai. Ia juga menegaskan bahwa informasi terkait perkembangan akademik siswa semestinya disampaikan langsung kepada orang tua.

“Seharusnya sejak awal orang tua diberi tahu, bukan hanya anak. Kalau orang tua sudah mendapat informasi jauh-jauh hari mengenai nilai anak yang kurang, tetapi anak tetap tidak memperbaikinya, tentu itu menjadi tanggung jawab kami sebagai orang tua,” ucapnya.

Terkait catatan kedisiplinan siswa, Dahuri mengakui dirinya beberapa kali dipanggil pihak sekolah untuk membahas berbagai persoalan yang melibatkan anak tersebut. Menurutnya, siswa telah berupaya beradaptasi dan memperbaiki perilakunya.

“Harusnya guru memberi ruang yang lebih luas kepada anak untuk memperbaiki diri. Itu bagian dari tugas pendidik,” pungkasnya.

Sacim Zein
Editor:
Sacim Zein
Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis dari sumber yang terpercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi subangpost.com dan dapat mengalami pembaruan dan klarifikasi dari pihak terkait.
👍 Like 💬 Komentar 🔗 Bagikan
spot_img
Memuat kurs...

Baca Juga

Artikel Lainnya

Subang Update

Peristiwa

KRIMINAL

^
Download Aplikasi GoKar
Transportasi Online Asli Karawang
INSTALL
X