Jumat, Mei 1, 2026
spot_img
spot_img
Memuat berita terbaru...

Berita Video

Top News

Nasional

Panen Perdana di Subang, CV Fiona Benih Mandiri Perkuat Distribusi Benih Unggul BRIN Berbasis Teknologi Nuklir

SUBANGPOST.COM — Panen perdana benih penjenis varietas padi unggul hasil pemuliaan mutasi iradiasi yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) digelar di Subang, Jawa Barat, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan ini menandai penerapan riset berbasis teknologi nuklir yang mulai memberikan dampak nyata di sektor pertanian.

Baca Juga  Kementan Adopsi Gagasan IPB, Gerakan Nasional Pengendalian Hama Digelar Serentak

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pemanfaatan teknologi nuklir melalui radiasi sinar gamma kini telah melampaui persepsi lama dan menjadi instrumen konkret dalam peningkatan produksi pangan.

- Advertisement -

“Teknologi ini tidak lagi berhenti di laboratorium, tetapi sudah diterapkan di lapangan untuk mempercepat peningkatan produktivitas pertanian,” ujar Arif dikutip antaranews.com, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, varietas unggul hasil iradiasi membuka peluang peningkatan indeks pertanaman dan hasil panen per hektare, terutama di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim.

Teknologi mutasi iradiasi bekerja dengan memperkaya keragaman genetik tanaman tanpa memasukkan gen asing. Pendekatan ini dinilai mampu memperbaiki berbagai kelemahan tanaman, seperti batang yang mudah rebah dan umur panen yang panjang.

- Advertisement -

Proses pemuliaan dilakukan menggunakan radiasi sinar gamma dari sumber Cobalt-60 (Co-60) terhadap benih padi. Perubahan DNA yang terjadi kemudian diseleksi secara ketat untuk mendapatkan karakter unggul.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, mengatakan kegiatan di Subang difokuskan pada perbanyakan benih penjenis dengan tingkat kemurnian genetik tinggi.

“Benih penjenis ini menjadi sumber awal dalam sistem perbenihan. Dari sinilah benih turunan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan dalam skala luas,” kata Mulyadi.

Ia menambahkan, proses menjaga kemurnian genetik dilakukan melalui tahapan ketat, termasuk roguing atau pembersihan tanaman yang tidak sesuai karakter.

“Ini penting untuk memastikan benih yang dihasilkan konsisten dan berkualitas,” ujarnya.

Sejumlah varietas unggul yang dihasilkan mulai menunjukkan performa menjanjikan. Varietas Sidenuk memiliki umur panen sekitar 103 hari dengan potensi hasil mencapai 9,1 ton per hektare.

Varietas Tropiko mampu menghasilkan hingga 10,53 ton per hektare serta tahan terhadap hama wereng cokelat, sementara varietas Bestari unggul dalam jumlah anakan produktif dan toleransi terhadap penyakit hawar daun bakteri.

Menurut Mulyadi, inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga ketahanan terhadap hama dan penyakit serta kualitas hasil panen.

Baca Juga  BGN Ingatkan Mitra SPPG, Pemberhentian Relawan Tak Boleh Sepihak

Dalam upaya hilirisasi, BRIN menjalin kemitraan dengan sektor swasta seperti CV Fiona Benih Mandiri dan PT Sipetapa untuk mempercepat distribusi benih unggul ke petani.

“Mitra industri menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi, tetapi bisa diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas,” kata Mulyadi.

Langkah ini dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian modern berbasis inovasi, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Panen benih di Subang menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelanjutan.

Zein AF

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis dari sumber yang terpercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi subangpost.com dan dapat mengalami pembaruan dan klarifikasi dari pihak terkait.
Bagikan Artikel
spot_img

Baca Juga

Artikel Lainnya

Subang Update

Peristiwa

KRIMINAL