Melalui pendekatan multidisiplin, perempuan didorong untuk mengenali perubahan tubuh sejak dini agar tetap sehat, aktif, dan produktif di setiap fase kehidupan.
SUBANGPOST.COM – Pola makan bergizi seimbang berperan penting menjaga metabolisme, mempertahankan massa otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis selama masa perimenopause.
Demikian dikatakan pakar nutrisi, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., saat menjadi pembicara dalam seminar edukasi perimenopause yang digelar Primaya Hospital, Sabtu (18/7).
Seminar tersebut membahas kesehatan reproduksi, nutrisi, kesehatan kulit, aktivitas fisik, kesehatan mental, hingga produktivitas perempuan.
Sementara itu, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan perubahan hormon memengaruhi kesehatan kulit dan rambut. Penurunan estrogen mengurangi produksi kolagen dan elastin sehingga kulit menjadi tipis, kering, dan kurang elastis.
Ia menyebut sekitar 30 persen kolagen kulit hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause. Setelah itu, kolagen terus berkurang sekitar dua persen setiap tahun dan rambut menjadi lebih tipis.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dikelola melalui perawatan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing individu. Perawatan yang sesuai membantu menjaga kesehatan kulit dan rambut selama masa perimenopause.
President Director Martha Tilaar SPA, Wulan Maharani Tilaar, mengajak perempuan memandang perimenopause secara positif. Ia mendorong perempuan merawat diri secara holistik agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.
Seminar juga membahas pentingnya aktivitas fisik dan kesehatan mental selama perimenopause. dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR menyebut 72,9 persen perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul.
Menurutnya, aktivitas fisik rutin dan bertahap menjaga kekuatan otot serta kesehatan tulang. Kebiasaan tersebut juga membantu mengurangi berbagai gejala perimenopause.
Selain perubahan fisik, perempuan juga menghadapi perubahan emosional selama perimenopause. Kondisi itu sering bertepatan dengan tuntutan pekerjaan, keluarga, serta perubahan hubungan sosial.
“Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab. Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup,” tutur dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc
Karena itu, tambahnya, penting bagi perempuan untuk mengelola stres melalui langkah sederhana seperti metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu).
“Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit,” tutur dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc.
Menutup diskusi, COO & Co-Founder Blibli, Lisa Widodo, mengajak perempuan tetap produktif selama perimenopause. Menurutnya, perubahan biologis dapat dipahami dan dikelola tanpa menyalahkan diri sendiri.
Ia mengatakan perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan. Menurutnya, pemahaman bahwa perubahan fokus, suasana hati, atau brain fog merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola akan membantu perempuan berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai beradaptasi.
“Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta dukungan keluarga dan lingkungan kerja, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya,” tutup Lisa.
Melalui seminar ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak perempuan memahami perimenopause sejak dini. Rumah sakit juga mendorong perempuan memperoleh pendampingan medis agar tetap sehat, aktif, dan produktif di setiap fase kehidupan.










