KARAWANG, SUBANGPOST.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mengadopsi gagasan akademisi IPB University dalam pengendalian hama tanaman pangan melalui Gerakan Nasional Pengumpulan Kelompok Telur Penggerek Batang yang kini diterapkan secara nasional.
Dilansir dari laman ipb.ac.id, Selasa (28/4/2026), program tersebut merupakan tindak lanjut dari masukan kalangan akademisi guna memperkuat strategi pengendalian hama berbasis lapangan yang ramah lingkungan.
Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Dr. Rachmat, mengatakan gerakan ini berangkat dari gagasan Prof. Hermanu Triwidodo saat dialog dengan Menteri Pertanian di IPB pada Kamis, 2 April 2026.
“Gerakan ini merupakan masukan dari Prof. Hermanu Triwidodo saat dialog bersama Menteri Pertanian di IPB,” ujarnya.
Kementan kemudian mengimplementasikan program ini secara serentak di 10 provinsi dengan melibatkan hampir 250 kabupaten di seluruh Indonesia sebagai langkah konkret menekan serangan hama sejak dini melalui teknologi terapan yang mudah diaplikasikan petani.
Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pelaksanaan kegiatan melibatkan lebih dari 150 peserta dari berbagai unsur, mulai dari jajaran Kementan, pemerintah daerah, DPRD, penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), petani Desa Sekarwangi, hingga siswa SMAN 1 Rawamerta.
Kegiatan digelar secara hybrid, meliputi pengambilan kelompok telur penggerek batang secara bersama-sama oleh petani dan pelajar di Karawang, penayangan langsung kegiatan serupa dari berbagai daerah, serta diskusi interaktif mengenai strategi pengendalian hama yang efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB University menilai intervensi pada fase awal pertumbuhan tanaman menjadi kunci utama. Pengumpulan kelompok telur pada masa persemaian dinilai efisien karena dilakukan pada area terbatas, namun mampu memutus siklus perkembangan hama sebelum populasinya meningkat.
“IPB mendukung penerapan teknologi ramah lingkungan seperti pengumpulan kelompok telur ini,” tegasnya.
Kementan menegaskan, gerakan ini tidak hanya menjadi langkah teknis pengendalian hama, tetapi juga momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan petani.
Pendekatan preventif yang sederhana namun berdampak nyata diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendorong praktik budidaya berkelanjutan.
Melalui inisiatif ini, Kementan bersama IPB University kembali menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi pertanian yang aplikatif, efisien, dan berpihak pada kelestarian lingkungan demi mendukung ketahanan pangan nasional.
SZ




