SUBANGPOST.COM – Ikat kepala yang dikenakan oleh Dedi Mulyadi, dikenal dengan sebutan Totopong atau Makuta Wangsa, memiliki makna simbolik yang mendalam dalam budaya Sunda.
Totopong melambangkan kehormatan, ketegasan, dan kebijaksanaan. Lebih dari sekadar aksesori, Totopong juga dipandang sebagai wujud pelestarian budaya dan identitas Sunda yang terus dijaga oleh Dedi Mulyadi.
Bagi Dedi, iket bukan hanya simbol, melainkan prinsip hidup orang Sunda yang mengakar kuat. Ungkapan tradisional seperti “Sing saringset pageuh iket” menjadi filosofi yang dijunjung tinggi.
“Memilih memakai ikat kepala adalah bagian dari hidup saya. Orang Sunda itu punya dua prinsip utama: cing caringcing pageuh kancing, dan sing saringset pageuh iket. Prinsip pertama berarti hidup harus dipandu oleh kekuatan hati, rasa, dan cinta,” ujar Dedi dalam pernyataannya yang dikutip dari detik.com.
Lebih lanjut, Dedi menjelaskan bahwa makna dari “sing saringset pageuh iket” adalah ajakan untuk memiliki pikiran yang terfokus.
“Pikiran kita tidak boleh ke mana-mana. Anggaran pun harus fokus untuk rakyat, tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan pribadi,” tambahnya.
Totopong sebagai Simbol Identitas
Totopong, atau iket Sunda, merupakan ikat kepala tradisional berbahan kain yang dilipat dan diikat dengan teknik tertentu. Totopong secara harfiah berarti “mahkota bangsa”, dan mencerminkan kebanggaan serta identitas masyarakat Sunda.
Dalam sejarahnya, Totopong telah digunakan sejak masa kerajaan di Tatar Parahyangan. Bentuk dan cara pemakaiannya bahkan sempat mencerminkan kelas sosial seseorang.
Tak hanya simbol status, Totopong juga berperan sebagai perekat solidaritas sosial, bahkan sempat digunakan oleh para pejuang kemerdekaan.
Sebagai tokoh budaya Sunda, Dedi Mulyadi secara konsisten mempopulerkan penggunaan Totopong sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali kebanggaan terhadap tradisi yang mulai tergerus oleh arus modernitas.
Warisan Budaya yang Menyebar
Sejarah mencatat bahwa iket merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Sunda sejak masa Sunda Wiwitan (Sunda Buhun). Dalam masyarakat adat seperti Kanekes (Baduy Dalam), iket tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal.
Menariknya, bentuk iket tidak hanya dikenal di wilayah Sunda. Di daerah lain, seperti Bali, dikenal dengan sebutan Udeng, dan di Padang serta berbagai daerah lainnya, terdapat bentuk ikat kepala serupa dengan ciri khas masing-masing.
Pakar sejarah bahkan menyebut bahwa wilayah budaya Sunda dahulu membentang dari dataran tinggi Gunung Sunda, yang dipercaya berada antara India hingga Australia, sebelum akhirnya terpecah menjadi gugusan pulau seperti yang dikenal saat ini. Karena itulah, kemiripan iket di berbagai wilayah nusantara menjadi hal yang lumrah.
Secara umum, istilah “iket” lebih luas digunakan dibandingkan “totopong”, yang lebih khas di wilayah seperti Cianjur dan Ciamis. Iket pada dasarnya adalah pelengkap busana pria Sunda, meski kini telah digunakan secara lebih luas oleh masyarakat umum seiring pengaruh modernisasi.
Meski demikian, secara tradisional iket kerap dikenakan oleh sesepuh adat, dalem keraton, atau tokoh adat yang memegang teguh nilai-nilai budaya. Tak jarang pula, iket dimaknai sebagai simbol kepemimpinan dan keberanian, karena kepala yang dikenakan iket melambangkan pusat kendali diri, tempat bersemayamnya akal dan kebijaksanaan.
Penulis: Sacim Zein
(Dihimpun dari berbagai sumber)