spot_imgspot_img
Selasa, Mei 19, 2026
spot_img
spot_img
Memuat berita terbaru...

Berita Video

Top News

Nasional

Pemindahan Lokasi Sidang Isbat ke Hotel Disorot, Ini Penjelasan Menag

SUBANGPOST.COM – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan permintaan maaf atas pelaksanaan sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Pemindahan lokasi dari kantor Kementerian Agama disebut dilakukan karena kendala teknis dan keterbatasan lahan parkir.

Baca Juga

“Karena alasan teknis, kenapa karena pembangunan jalan raya di depan Thamrin, kita nggak ada parkir,” ujar Nasaruddin.

- Advertisement -

Di sisi lain, sejumlah pihak mempertanyakan anggaran yang dikeluarkan negara untuk pelaksanaan sidang tersebut.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, sebelumnya menjelaskan bahwa anggaran sidang isbat berkisar antara Rp140 juta hingga Rp160 juta.

Menurutnya, dana tersebut digunakan untuk membiayai transportasi dan konsumsi ratusan undangan yang terdiri atas organisasi kemasyarakatan Islam, pakar astronomi, perwakilan negara sahabat, serta petugas rukyatul hilal di berbagai titik di Indonesia.

Baca Juga

- Advertisement -

Abu Rokhmad menegaskan, anggaran tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan kepastian hukum dan kepastian ibadah bagi masyarakat, mengingat dampaknya yang luas terhadap berbagai sektor, seperti operasional perkantoran, layanan publik, hingga perbankan.

Baca Juga  Mentan Cabut Izin Distributor Pupuk Subsidi Usai Terima Laporan Mahasiswa

“Sidang isbat adalah bentuk kehadiran negara untuk memfasilitasi umat beragama dalam menjalankan ajaran agama yang berimplikasi pada kehidupan publik,” ujar Abu Rokhmad dilansir antaranews.com, Jumat (13/2/2026).

Ia menambahkan, kepastian awal bulan kamariah menjadi penting karena berpengaruh pada berbagai kepentingan publik, termasuk penetapan hari libur nasional.

Selain itu, sidang isbat juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat mengenai metode penentuan awal bulan kamariah yang mengintegrasikan pendekatan hisab dan rukyat.

“Pemerintah berikhtiar mengintegrasikan metode hisab dan rukyat secara cermat. Sidang isbat menjadi wadah ilmiah dan musyawarah mufakat dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” kata Abu Rokhmad.

Baca Juga  Direktur Pertamina Patra Niaga Terima Satyalancana Pembangunan atas Kontribusi di Sektor Energi

Ia menegaskan, sidang isbat tidak dimaksudkan untuk mempertajam perbedaan, melainkan sebagai sarana edukasi agar masyarakat memahami kompleksitas metode penentuan awal bulan kamariah.

“Kemenag ingin mengedukasi masyarakat, bukan mempertajam perbedaan. Perbedaan metode memiliki implikasi yang kompleks, dan pemerintah berupaya memberikan pemahaman yang utuh,” ujarnya. (*)

Editor: Zein AF

Catatan Redaksi: Artikel ini ditayangkan secara otomatis dari sumber yang terpercaya. Validitas dan isi sepenuhnya tanggung jawab redaksi subangpost.com dan dapat mengalami pembaruan dan klarifikasi dari pihak terkait.
👍 Like 💬 Komentar 🔗 Bagikan
spot_img
Memuat kurs...

Baca Juga

Artikel Lainnya

Subang Update

Peristiwa

KRIMINAL

^
Download Aplikasi GoKar
Transportasi Online Asli Karawang
INSTALL
Close