SUBANGPOST.COM – Di sebuah sudut pantai utara Kabupaten Subang, tepatnya di Dusun Sidamulya, Desa Ciasem Baru, denyut pendidikan Islam tradisional terus hidup sejak puluhan tahun silam. Pondok Pesantren Assalafiyah Sidamulya tumbuh dari ruang sederhana menjadi pusat pembelajaran yang menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi keislaman di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, pesantren ini menjadi ruang transmisi nilai, tempat ajaran, budaya, dan akhlak diwariskan lintas generasi. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Assalafiyah Sidamulya tetap teguh mempertahankan jati dirinya, sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pesantren ini didirikan pada 1982 oleh almarhum K.H. Haramin, berawal dari pengajian kitab kuning di sebuah surau sederhana. Dari ruang kecil tersebut, pendidikan berbasis Ahlussunah waljama’ah mulai ditanamkan kepada masyarakat lintas usia, sebuah model dakwah kultural yang berkembang secara organik.
Zamakhsyari Dhofier dalam buku “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (1982)”, menegaskan, bahwa pesantren merupakan subkultur pendidikan khas Indonesia yang ditopang oleh lima elemen utama: kiai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab klasik.

Nama “Assalafiyah” sendiri menjadi penegasan identitas pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan klasik (salaf). Hal ini selaras dengan pandangan Azyumardi Azra dalam Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III yang menyebut pesantren sebagai lembaga yang adaptif, mampu mempertahankan tradisi keilmuan klasik sembari merespons perubahan sosial melalui inovasi pendidikan.
Di Assalafiyah Sidamulya, adaptasi itu tampak melalui integrasi pendidikan salafiyah dan formal. Santri tidak hanya mempelajari kitab kuning melalui metode sorogan dan bandongan, tetapi juga mengikuti pendidikan formal melalui SMP Plus dan SMA Plus Assalafiyah, serta pendidikan anak usia dini di TK Plus Assalafiyah.
Model integratif ini sejalan dengan gagasan Nurcholish Madjid dalam Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1997), yang menekankan pentingnya pembaruan pendidikan Islam tanpa harus tercerabut dari akar tradisinya.

Secara metodologis, jenjang pendidikan diniyah di pesantren ini disusun bertahap. Pada tingkat ula, santri mempelajari ilmu sharaf melalui hafalan. Tingkat wustha difokuskan pada penguasaan ilmu nahwu dengan kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah.
Sementara pada tingkat ulya, santri mulai mendalami kitab fikih seperti Fathul Qarib dan Fathul Muin, serta Alfiyah Ibnu Malik sebagai rujukan nahwu tingkat lanjut. Adapun pada jenjang takhasus, kajian kitab turats yang lebih kompleks dilakukan melalui metode diskusi.
Pola pengajaran tersebut mencerminkan apa yang oleh Clifford Geertz uraikan dalam The Religion of Java (1960), yang menggambarkan pesantren sebagai pusat tradisi intelektual berbasis transmisi teks dan otoritas keilmuan yang diwariskan secara berkelanjutan.
Didukung fasilitas yang terus berkembang—mulai dari masjid jami, asrama, ruang kelas, perpustakaan hingga dapur umum—pesantren ini menjadi ruang pendidikan yang hidup selama 24 jam. Aktivitas santri tidak hanya berkutat pada pembelajaran, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlakul karimah sebagai inti pendidikan.
Berbasis kultur Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Pesantren Assalafiyah Sidamulya menempatkan nilai moderasi, tradisi, dan keberlanjutan sebagai fondasi. Di bawah pengelolaan Yayasan Assalafiyah serta naungan Kementerian Agama dan Kemendikdasmen, pesantren ini terus berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan keagamaan terkemuka di wilayah pantura Subang.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, Pondok Pesantren Assalafiyah Sidamulya tetap berdiri sebagai penyeimbang. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menyaringnya mengambil yang bermanfaat tanpa kehilangan jati diri.
Di situlah Assalafiyah menemukan relevansinya hari ini, menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Sebuah ruang di mana nilai-nilai klasik tidak hanya dijaga, tetapi juga diberi makna baru agar tetap hidup dalam kehidupan modern yang terus bergerak.
Penulis: Sacim Zein




