SUBANGPOST.COM – Di pelataran Klenteng Bio Tjou Soe Kong, Jalan Tuparev, siang itu suasana berbeda. Di tengah ancaman banjir yang masih membayangi sejumlah wilayah Karawang, para relawan dari berbagai latar belakang agama bahu-membahu menyiapkan ratusan paket nasi siap saji. Tidak ada sekat keyakinan. Yang ada hanyalah satu tujuan: membantu sesama.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karawang, Selasa (20/1/2026), menggelar bakti sosial peduli kemanusiaan bagi warga terdampak banjir.
Dari tempat sederhana itu, sekitar 1.000 paket makanan siap saji dan air mineral disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak, mulai dari Desa Sukamakmur dan Purwadana di Kecamatan Telukjambe Timur hingga Kampung Gempol, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat.
Bagi FKUB, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ketua FKUB Kabupaten Karawang, KH Dr. Masykur Mansyur, menyebut aksi tersebut sebagai perwujudan nyata kebersamaan lintas iman yang selama ini dirawat dalam kehidupan sosial masyarakat Karawang.
“Yang ingin kami hadirkan bukan hanya nasi bungkus, tetapi rasa kebersamaan. FKUB harus hadir dan bermanfaat bagi umat, terutama saat masyarakat sedang diuji oleh musibah,” ujar KH Masykur.
Di lapangan, para relawan lintas agama tampak turun langsung ke lokasi pengungsian. Mereka menyapa warga, mengantarkan bantuan, sekaligus memberikan penguatan moril bagi para korban banjir.
Bagi sebagian warga, perhatian dan kehadiran para tokoh agama menjadi penghibur di tengah kelelahan dan ketidakpastian.
Aksi kemanusiaan ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Karawang. Kepala Kantor Kemenag Karawang, H. Sopian, melalui Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Yakub, menilai kegiatan FKUB sebagai cermin toleransi yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
“Bencana banjir adalah persoalan kemanusiaan. Cara menghadapinya pun harus bersama-sama, tanpa memandang latar belakang agama, suku, atau golongan,” tutur H. Yakub.
Menurutnya, kolaborasi lintas agama seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam tindakan sosial yang nyata.
Di balik paket makanan yang dibagikan, tersimpan pesan kuat tentang persaudaraan dan solidaritas. Di saat air banjir memisahkan rumah dan kehidupan warga, kepedulian justru menyatukan banyak hati.
FKUB bersama pengurus lintas agama menunjukkan bahwa kerukunan bukan hanya slogan, melainkan tindakan nyata saat masyarakat paling membutuhkan.
Kemenag Karawang berharap, semangat gotong royong yang tumbuh dari aksi kemanusiaan ini dapat terus dirawat. Sinergi antara FKUB, pemerintah, dan seluruh elemen lintas agama dinilai penting agar penanganan bencana di masa depan dapat berjalan lebih cepat, lebih kuat, dan lebih manusiawi.
Di tengah musibah banjir yang belum sepenuhnya surut, aksi sederhana dari berbagai iman ini menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya, melampaui perbedaan, menuju kepedulian bersama. (Pri)





