SUBANGPOST.COM – Di tengah genangan banjir yang kembali merendam Desa Purwadana, secercah harapan hadir di Shelter Reshinda, Karawang. Ratusan nasi bungkus dibagikan kepada para pengungsi yang bertahan dari amukan air, Sabtu (24/1/2026).
Bantuan itu datang dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Karawang yang berkolaborasi dengan Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Karawang.
Lebih dari 1.500 pengungsi asal Desa Purwadana, Suka Makmur, dan Parungsari menerima bantuan bakti sosial tersebut. Mereka adalah warga yang kembali mengungsi setelah banjir susulan kembali melanda wilayahnya akibat meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibe’et.
Shelter Reshinda bukan tempat yang asing bagi FKUB Karawang. Ini merupakan kali kedua forum lintas agama itu hadir di lokasi pengungsian. Sebelumnya, pada Selasa (20/1/2026), FKUB Karawang juga menyalurkan bantuan serupa dengan dukungan Kementerian Agama Kabupaten Karawang.
Saat itu, sebagian warga sempat kembali ke rumah masing-masing setelah air surut. Namun, hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Karawang selama sepekan terakhir membuat kondisi kembali memburuk. Air kembali meluap, bahkan di beberapa titik ketinggiannya mencapai leher orang dewasa, memaksa warga kembali meninggalkan rumah.
Situasi tersebut mendorong Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, mengimbau warga agar bersedia dievakuasi ke tempat yang lebih aman demi keselamatan jiwa.
Ketua FKUB Karawang, Dr. KH. Masykur Mansyur, mengatakan aksi bakti sosial ini merupakan wujud tanggung jawab kemanusiaan dan solidaritas lintas elemen masyarakat. Ia pun menyampaikan doa bagi Karawang dan para korban banjir.
“Kami berdoa semoga Karawang segera terbebas dari musibah banjir. Kepada para pengungsi, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan, serta tetap menjaga ibadah kepada Allah SWT dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Purwadana, Endang Heryana, SH, mengungkapkan jumlah warganya yang terdampak banjir mencapai sekitar 5.700 jiwa.
Proses evakuasi, kata dia, sempat mengalami kendala karena sebagian warga Dusun Sumedangan enggan meninggalkan rumah demi menjaga hewan ternak mereka.
“Sebagian warga lebih mengkhawatirkan hewan peliharaannya dibanding keselamatan diri. Alhamdulillah, setelah kondisi semakin parah dan ada arahan dari pemerintah daerah, warga akhirnya bersedia dievakuasi menggunakan truk militer bantuan Yonif 305 Kostrad,” kata Endang.
Di tengah keterbatasan di pengungsian, layanan kesehatan terus disiagakan. Petugas medis dari Puskesmas Wadas, Kecamatan Teluk Jambe Timur, mencatat sebagian besar pengungsi mengalami penyakit kulit, flu, dan demam. Meski demikian, tidak ada pengungsi yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Pemantauan kesehatan juga dilakukan oleh tim medis dari Rumah Sakit Mandaya. Kehadiran berbagai pihak, mulai dari relawan, tenaga medis, hingga organisasi lintas agama, menjadi penguat harapan di tengah bencana.
Aksi kemanusiaan FKUB Karawang dan PSMTI ini diharapkan mampu meringankan beban para korban banjir sekaligus menegaskan bahwa solidaritas dan kebersamaan lintas umat tetap hidup di Kabupaten Karawang. (Pri)





