SUBANGPOST.COM – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Desa Jayamukti dan sejumlah titik di Kecamatan Blanakan sejak Kamis (21/01/2026) mengakibatkan tanggul Kali Cibening kembali jebol, meskipun tanggul tersebut baru saja diperbaiki setelah mengalami kerusakan serupa pada bulan sebelumnya.
Akibat jebolnya tanggul tersebut, banjir merendam area pertanian dan permukiman warga. Sedikitnya sekitar 400 hektare sawah di Jayamukti bagian utara yang baru saja ditanami kembali pascabanjir sebelumnya kembali terendam air, sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi para petani.
Selain lahan pertanian, banjir juga merambah ke kawasan permukiman warga serta sejumlah tambak ikan. Kondisi ini semakin memperparah dampak ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari banjir sebelumnya.
Kepala Desa Jayamukti, Surjaya, mengatakan bahwa curah hujan tinggi menjadi pemicu utama jebolnya kembali tanggul Kali Cibening. Menurutnya, kondisi tersebut membuat banjir sulit dihindari.
“Sejak Kamis hujan turun terus dengan intensitas tinggi. Debit air meningkat drastis hingga tanggul Kali Cibening kembali jebol, padahal baru saja diperbaiki setelah kejadian bulan lalu,” ujar Surjaya.
Ia menambahkan, banjir kali ini sangat memukul para petani karena sawah yang terendam merupakan lahan yang baru ditanami ulang. Selain itu, rumah warga dan tambak ikan juga ikut terdampak.
Pemerintah Desa Jayamukti bersama warga dan petani terdampak berupaya melakukan penanganan darurat dengan membendung tanggul Kali Cibening yang jebol. Namun, upaya tersebut belum berhasil karena derasnya aliran air kiriman dari Kali Malang Patok Besi serta limpasan dari persawahan Sanyangsari yang membuat debit air terus meningkat.
Bantuan karung untuk penambalan tanggul dari pihak PJT serta bantuan dari Desa Langgensari telah tersedia. Namun, bantuan tersebut belum dapat dimanfaatkan karena masih menunggu surutnya debit air di Kali Pembuangan Cibening.
Kades Surjaya menambahkan, jebolnya tanggul tersebut juga dipicu oleh jalur pembuangan air menuju laut di wilayah Perhutani dan Kali Malang yang sudah penuh sedimentasi serta ditumbuhi tanaman liar.
“Kondisi ini menghambat aliran air menuju Laut Utara Subang sehingga debit air di hulu terus meningkat,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera melakukan normalisasi Kali Malang dan seluruh saluran pembuangan air sawah menuju laut. Pasalnya, hampir seluruh saluran di kawasan Perhutani saat ini dipenuhi sedimentasi dan tumbuhan liar.
“Kami memohon pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan penanganan darurat serta perbaikan permanen pada tanggul Kali Cibening agar kejadian serupa tidak terus berulang,” harapnya.
Selain itu, dari arah Jayamukti bagian barat, Kali Pembuangan Pepetan Rawameneng juga dilaporkan meluap akibat sedimentasi yang tinggi. Kondisi tersebut dinilai mendesak untuk segera dilakukan normalisasi guna mencegah banjir berulang.
Ia juga mengingatkan warga untuk tetap waspada, mengingat banjir berpotensi meluas ke wilayah bagian utara, termasuk area Dusun Pelelangan ikan Blanakan, apabila hujan deras masih terus berlangsung.
Reporter: Kunadi





